Rabu, 23 April 2025

Tradisi yang Tak Lekang: Misteri dan Simbolisme Cincin Paus

 

WARTALAPOR - Dalam persiapan pemakaman Paus Fransiskus, sebuah ritual kuno muncul kembali: penghancuran Cincin Nelayan, simbol kekuasaan spiritual tertinggi dalam Gereja Katolik yang dipakai Paus selama dua belas tahun. Namun, kali ini, cincin itu mungkin tidak akan dihancurkan sepenuhnya seperti di masa lalu. 

Cincin Nelayan telah ada sejak abad ke-13 dan merujuk pada Santo Petrus, yang dikenal sebagai Paus pertama. Cincin ini dihiasi dengan gambar Santo Petrus dan berfungsi sebagai segel resmi untuk dokumen kepausan. Penghancuran cincin dan bulla setelah seorang Paus wafat dilakukan untuk mencegah pemalsuan dokumen. Christopher Lamb menjelaskan bahwa ini sama dengan mengambil alih akun media sosial seseorang untuk menghentikan penyalahgunaan. 

Dulu, penghancuran cincin dilakukan segera setelah wafatnya Paus oleh Camerlengo Gereja Roma Suci di hadapan Dewan Kardinal. Namun, setelah Paus Benediktus XVI mengundurkan diri pada 2013, cincin beliau hanya diukir sebagai tanda pembatalan kekuasaan, memulai tradisi baru yang lebih menghormati simbol spiritual. 

Kardinal Kevin Joseph Farrell, Camerlengo saat ini, diperkirakan akan mengikuti tradisi baru ini. Paus Fransiskus juga membuat keputusan tidak biasa dengan menggunakan cincin "daur ulang" milik mendiang Uskup Agung Pasquale Macchi, yang terbuat dari perak berlapis emas, bukan emas murni. Ini mencerminkan sikap Paus yang menolak kemewahan. 

Cincin Nelayan juga simbol otoritas Paus. Fransiskus mengenakannya saat upacara resmi, tetapi menggunakan cincin perak sederhana dalam keseharian. Namun, cincinnya membawa kontroversi, seperti pada 2019 saat beliau menarik tangan dari umat yang ingin mencium cincin, yang membuat Vatikan menjelaskan untuk mencegah penyebaran kuman. 

Nasib cincin bekas Paus setelah pemilihan Paus baru masih misterius dan informasi tentang perlakuannya tetap dirahasiakan.