Sabtu, 19 April 2025

Lo Kheng Hong Pernah Salah Langkah: Menyikapi Kerugian 85% sebagai Pelajaran Berharga

 


WARTALAPOR - Siapapun pernah melakukan kesalahan, termasuk investor sukses seperti Lo Kheng Hong. Meskipun dikenal sebagai investor terbaik di Indonesia, Lo Kheng Hong pernah mengalami kerugian hingga 85%. Hal ini terjadi pada tahun 1998 saat krisis melanda Indonesia, di mana dia hampir bangkrut dan hanya memiliki sisa 15% dari total kekayaannya. Saat itu, Lo Kheng Hong sudah menjadi investor penuh waktu, sementara istrinya adalah ibu rumah tangga dan mereka memiliki dua anak. 


Saat menyadari ancaman kebangkrutan, Lo Kheng Hong memutuskan untuk menaruh seluruh sisa hartanya di saham PT United Tractor Tbk (UNTR), yang saat itu dihargai Rp 250 per lembar. Dia memilih UNTR karena menganggap perusahaan tersebut memiliki prospek cerah dan valuasi yang tinggi. Meskipun ada keraguan, dia tetap bertahan dalam keputusannya untuk berinvestasi di satu perusahaan ini. 


Setelah enam tahun, pada tahun 2004, Lo Kheng Hong menjual seluruh asetnya di UNTR dengan harga naik menjadi Rp 15. 000 per lembar. Dia merasa cemas saat menjual, takut harganya akan turun lagi. Namun, harga saham UNTR kemudian naik menjadi Rp 600. 000. Dia berhasil bertahan melalui krisis tahun 1998 dengan investasi ini. 


Lo Kheng Hong lahir pada 20 Februari 1959 dan dikenal sebagai Warren Buffet Indonesia. Dia percaya bahwa menjadi investor saham bisa membuat seseorang kaya, dengan menerapkan prinsip value investing, yaitu membeli saham dengan harga rendah yang berpotensi tumbuh. Dia juga memiliki saham lebih dari 5% di beberapa perusahaan seperti PT Clipan Finance Indonesia Tbk dan PT Gajah Tunggal Tbk. 


Ternyata, Lo Kheng Hong juga pernah mengalami kerugian besar lainnya. Dalam sebuah video tahun 2016, dia menceritakan pengalamannya berinvestasi di PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saat itu, dia memiliki 1 miliar saham BUMI yang nilainya turun menjadi Rp 50. Meskipun ada berita bahwa dia mungkin bangkrut, dia tetap tenang karena tidak memiliki utang dan masih memiliki aset lainnya di saham PT Petrosea Tbk. 


Biarpun kehilangan uang besar, Lo Kheng Hong tetap fokus pada aset yang dimiliki dan tidak stres. Dia bahkan tetap mengajar di Universitas Prasetiya Mulya. Dia menganggap pengalaman di titik terendah memberinya pelajaran berharga. Setelah satu setengah tahun, dia akhirnya berhasil menjual saham BUMI di harga Rp 500 pada 2017. 


Kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi investor saham yang merasa ragu di tengah kondisi pasar yang menurun dan tidak kunjung membaik.



Narasumber https://wartalapor.blogspot.com/

www.slot-500.org

www.slot1000k.com

www.bet-888.org